Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan

Ditemukan Fosil Nenek Moyang Ikan Paus


BUENOS AIRES - Telah ditemukan fosil ikan paus purba di Kutub Utara, yang diduga merupakan yang tertua untuk jenisnya.

Seperti yang dikutip dari Associated Press, Kamis (13/10/2011), para ilmuwan Argentina mengatakan bahwa mereka telah menemukan tulang rahang dari seekor ikan paus purba di Kutub Selatan, yang diduga merupakan yang tertua dari jenisnya.

Paleontolog Marcelo Reguero mengatakan bahwa tulang rahang ikan paus purba yang mereka temukan berusia sekira 49 juta tahun.

Dari sudut padang evolusi, usia tersebut berjarak tidak jauh dari leluhur ikan paus yang hidup sekira 53 juta tahun yang lalu. Hewan yang menjadi nenek moyang ikan paus diduga adalah jenis amfibi; mampu berjalan di darat dan berenang di laut

Sementara itu, Paul Sereno, paleontolog dari University of Chicago, mengatakan jika temuan tersebut cocok dengan pendapat ilmuwan lain, maka bisa jadi ikan paus berevolusi lebih awal dari dugaan semula.
(ATA)

BUENOS AIRES - Telah ditemukan fosil ikan paus purba di Kutub Utara, yang diduga merupakan yang tertua untuk jenisnya.

Seperti yang dikutip dari Associated Press, Kamis (13/10/2011), para ilmuwan Argentina mengatakan bahwa mereka telah menemukan tulang rahang dari seekor ikan paus purba di Kutub Selatan, yang diduga merupakan yang tertua dari jenisnya.

Paleontolog Marcelo Reguero mengatakan bahwa tulang rahang ikan paus purba yang mereka temukan berusia sekira 49 juta tahun.

Dari sudut padang evolusi, usia tersebut berjarak tidak jauh dari leluhur ikan paus yang hidup sekira 53 juta tahun yang lalu. Hewan yang menjadi nenek moyang ikan paus diduga adalah jenis amfibi; mampu berjalan di darat dan berenang di laut

Sementara itu, Paul Sereno, paleontolog dari University of Chicago, mengatakan jika temuan tersebut cocok dengan pendapat ilmuwan lain, maka bisa jadi ikan paus berevolusi lebih awal dari dugaan semula.
(ATA)

Remaja Inggris 18 Tahun Temukan Komet

LONDON - Seorang remaja Inggris berusia 18 tahun di sela proyek sains masa liburan musim panasnya, berhasil menemukan pecahan komet yang tak biasa.

Seperti yang dikutip dari The Register, Senin (5/9/2011), penemuan tersebut berawal dari sebuah proyek sains pengisi liburan musim panas, yang berakhir dengan mendapat ucapan selamat dari International Astronomical Society.

Hannah Blyth usia 18 tahun dari sekolah Cardiff ketika melakukan penemuan tersebut sedang magang di program musim panas Faulks Telescope Project. Blyth berhasil mengumpulkan rangkaian gambar dari komet 213P Van Ness. 
LONDON - Seorang remaja Inggris berusia 18 tahun di sela proyek sains masa liburan musim panasnya, berhasil menemukan pecahan komet yang tak biasa.

Seperti yang dikutip dari The Register, Senin (5/9/2011), penemuan tersebut berawal dari sebuah proyek sains pengisi liburan musim panas, yang berakhir dengan mendapat ucapan selamat dari International Astronomical Society.

Hannah Blyth usia 18 tahun dari sekolah Cardiff ketika melakukan penemuan tersebut sedang magang di program musim panas Faulks Telescope Project. Blyth berhasil mengumpulkan rangkaian gambar dari komet 213P Van Ness. 

Hewan Langka Bisa Dihidupkan Lewat Sel Kulit

CALIFORNIA - Para peneliti telah menyimpan beberapa sel-sel kulit dari spesies hewan yang terancam punah selama 40 tahun. Kini, upaya tersebut nampaknya berguna untuk mengembangkan sebuah metode produksi sel induk dari sampel sel kulit yang tersimpan.

Sel-sel kulit yang telah lama disimpan ini dapat digunakan untuk menghidupkan kembali spesies hewan yang terancam punah. Upaya untuk melindungi hewan yang langka memang sudah dimulai pada tahun 1972, namun para ahli saat itu belum mengetahui teknologi sel induk. Namun mereka berupaya menyimpan sampel kulit dari berbagai spesies hewan dengan harapan bahwa satu hari nanti akan ada ilmu pengetahuan untuk mencari cara dalam melestarikan kembali hewan-hewan yang langka.
CALIFORNIA - Para peneliti telah menyimpan beberapa sel-sel kulit dari spesies hewan yang terancam punah selama 40 tahun. Kini, upaya tersebut nampaknya berguna untuk mengembangkan sebuah metode produksi sel induk dari sampel sel kulit yang tersimpan.

Sel-sel kulit yang telah lama disimpan ini dapat digunakan untuk menghidupkan kembali spesies hewan yang terancam punah. Upaya untuk melindungi hewan yang langka memang sudah dimulai pada tahun 1972, namun para ahli saat itu belum mengetahui teknologi sel induk. Namun mereka berupaya menyimpan sampel kulit dari berbagai spesies hewan dengan harapan bahwa satu hari nanti akan ada ilmu pengetahuan untuk mencari cara dalam melestarikan kembali hewan-hewan yang langka.

Terungkap, Masa Lalu Planet Mars

Banyak ilmuwan memperkirakan bahwa Mars, planet yang saat ini dingin dan sangat kering, dulunya memiliki samudera yang penuh air di permukaannya. Namun demikian, bukan berarti planet tersebut sebelumnya merupakan kawasan tropik.

Dari laporan yang dipublikasikan di jurnal Nature Geoscience, astrobiolog Alberto Fairyn dan rekan-rekannya dari SETI Institute and NASA Ames Research Center menyebutkan bahwa Mars lebih buruk dari perkiraan.

Absennya phyllosilicate di kawasan dataran rendah di bagian utara planet Mars mengindikasikan bahwa samudera yang pernah ada di sana merupakan samudera dingin, dan kemungkinan berbatasan dengan gletser yang membeku.
Banyak ilmuwan memperkirakan bahwa Mars, planet yang saat ini dingin dan sangat kering, dulunya memiliki samudera yang penuh air di permukaannya. Namun demikian, bukan berarti planet tersebut sebelumnya merupakan kawasan tropik.

Dari laporan yang dipublikasikan di jurnal Nature Geoscience, astrobiolog Alberto Fairyn dan rekan-rekannya dari SETI Institute and NASA Ames Research Center menyebutkan bahwa Mars lebih buruk dari perkiraan.

Absennya phyllosilicate di kawasan dataran rendah di bagian utara planet Mars mengindikasikan bahwa samudera yang pernah ada di sana merupakan samudera dingin, dan kemungkinan berbatasan dengan gletser yang membeku.

Proses Hibernasi Tupai Mampu Sembuhkan Stroke


WASHINGTON - Para ilmuwan Alaska menyatakan telah menemukan cara untuk menjadikan tupai berhibernasi. Nantinya proses ini akan diterapkan pada manusia yang menderita stroke atau serangan jantung.

Journal dari Neurosciece mengatakan bahwa teknik ini hanya baru bekerja pada tupai yang diteliti oleh para peneliti selama musim hibernasi mereka dan bukan di luar musim hibenrasi normal.

Para peneliti di Unversitas dari Alaska, Fairbanks, mempelajari bahwa tupai asal Kutub Utara yang diberikan zat kafein akan mempercepat mereka dalam berhibernasi. Zat lain juga diberikan kepada mereka selama kurun waktu setahun guna melihat apakah bisa merangsang bagian otak yang mendorong molekul adenosin untuk mengaitkan dirinya sendiri ke reseptor. Namun hal ini dapat menyebakan rasa kantuk.

"Ketika seekor tupai mulai berhibernasi ini berkaitan dengan ketika manusia merasa mengantuk, itu karena molekul adenosin telah melekatkan diri pada reseptor dalam otak manusia," ujar Dr Tulasi Jinka, penulis utama penelitian ini, seperti dikutip dari Straits Times, Rabu (27/7/2011).

Adenosin akan memperlambat aktivitas sel saraf. Ketika hewan melakukan hibernasi, mereka akan mengalami suhu tubuh yang sangat rendah dan menghirup sedikit oksigen. Tetapi dalam proses hibernasi mereka tidak menderita kerusakan otak. Jika para ilmuwan bisa menguasai proses ini pada manusia, maka mereka berpotensi dapat mencegah kerusakan yang disebabkan oleh trauma parah, contohnya ketika orang berhenti bernapas karena serangan jantung atau stroke.

Akan tetapi realisasi hal ini masih cukup lama. Para peneliti menemukan bahwa tupai menunjukan kelambanan atau keadaan dimana konsumsi oksigen turun satu persen dari tingkat metabolisme selama beristirahat.

Hanya ada dua dari enam tupai yang bisa melakukan hibernasi di luar musim normalnya. Para peneliti tidak yakin apa yang menyebabkan otak tupai menjadi cukup peka untuk menghasilkan adenosin, untuk kondisi hibernasi normal. Langkah selanjutnya ialah menguji proses pada tikus, yang sistem sarafnya lebih mirip dengan manusia.

Sumber : Kaskus

WASHINGTON - Para ilmuwan Alaska menyatakan telah menemukan cara untuk menjadikan tupai berhibernasi. Nantinya proses ini akan diterapkan pada manusia yang menderita stroke atau serangan jantung.

Journal dari Neurosciece mengatakan bahwa teknik ini hanya baru bekerja pada tupai yang diteliti oleh para peneliti selama musim hibernasi mereka dan bukan di luar musim hibenrasi normal.

Para peneliti di Unversitas dari Alaska, Fairbanks, mempelajari bahwa tupai asal Kutub Utara yang diberikan zat kafein akan mempercepat mereka dalam berhibernasi. Zat lain juga diberikan kepada mereka selama kurun waktu setahun guna melihat apakah bisa merangsang bagian otak yang mendorong molekul adenosin untuk mengaitkan dirinya sendiri ke reseptor. Namun hal ini dapat menyebakan rasa kantuk.

"Ketika seekor tupai mulai berhibernasi ini berkaitan dengan ketika manusia merasa mengantuk, itu karena molekul adenosin telah melekatkan diri pada reseptor dalam otak manusia," ujar Dr Tulasi Jinka, penulis utama penelitian ini, seperti dikutip dari Straits Times, Rabu (27/7/2011).

Adenosin akan memperlambat aktivitas sel saraf. Ketika hewan melakukan hibernasi, mereka akan mengalami suhu tubuh yang sangat rendah dan menghirup sedikit oksigen. Tetapi dalam proses hibernasi mereka tidak menderita kerusakan otak. Jika para ilmuwan bisa menguasai proses ini pada manusia, maka mereka berpotensi dapat mencegah kerusakan yang disebabkan oleh trauma parah, contohnya ketika orang berhenti bernapas karena serangan jantung atau stroke.

Akan tetapi realisasi hal ini masih cukup lama. Para peneliti menemukan bahwa tupai menunjukan kelambanan atau keadaan dimana konsumsi oksigen turun satu persen dari tingkat metabolisme selama beristirahat.

Hanya ada dua dari enam tupai yang bisa melakukan hibernasi di luar musim normalnya. Para peneliti tidak yakin apa yang menyebabkan otak tupai menjadi cukup peka untuk menghasilkan adenosin, untuk kondisi hibernasi normal. Langkah selanjutnya ialah menguji proses pada tikus, yang sistem sarafnya lebih mirip dengan manusia.

Sumber : Kaskus

Di Venezuela, Ada Petir Abadi Sepanjang Tahun

 Sebuah petir abadi misterius terjadi di Venezuela. Sebanyak 40 ribu kilatan merobek langit selama 9 jam pada 300 malam dalam setahun. Oleh warga setempat, fenomena ini dikenal sebagai "Relampago de Catatumbo," atau "Petir Catatumbo".

Penduduk asli dari Northwestern Venezuela sudah menyaksikan fenomena "tulang rusuk" atau "sungai api di langit" itu selama berabad-abad. "Saya melihat petir pertama ketika saya berusia 8 tahun," kata Erik Quiroga, penduduk asli daerah itu, dikutip dari ABC News, 23 Agustus 2011.

Menurut Alan Highton, seorang pemandu wisata, fenomena ini tidak ditemukan di belahan dunia lain.

Namun keanehan terjadi tahun lalu. Untuk pertama kali, fenomena petir tersebut menghilang. Mulai Januari 2010, tidak satupun petir terlihat. Kemudian, secara misterius, ketika diperkirakan fenomena itu telah berhenti, ia kembali dimulai. Fenomena ini langsung direkam oleh satelit NASA.
 Sebuah petir abadi misterius terjadi di Venezuela. Sebanyak 40 ribu kilatan merobek langit selama 9 jam pada 300 malam dalam setahun. Oleh warga setempat, fenomena ini dikenal sebagai "Relampago de Catatumbo," atau "Petir Catatumbo".

Penduduk asli dari Northwestern Venezuela sudah menyaksikan fenomena "tulang rusuk" atau "sungai api di langit" itu selama berabad-abad. "Saya melihat petir pertama ketika saya berusia 8 tahun," kata Erik Quiroga, penduduk asli daerah itu, dikutip dari ABC News, 23 Agustus 2011.

Menurut Alan Highton, seorang pemandu wisata, fenomena ini tidak ditemukan di belahan dunia lain.

Namun keanehan terjadi tahun lalu. Untuk pertama kali, fenomena petir tersebut menghilang. Mulai Januari 2010, tidak satupun petir terlihat. Kemudian, secara misterius, ketika diperkirakan fenomena itu telah berhenti, ia kembali dimulai. Fenomena ini langsung direkam oleh satelit NASA.

Fosil Mirip Tikus Bisa Ungkap Evolusi Manusia

Ini merupakan fosil tertua yang pernah ditemukan dari kelompok hewan yang disebut eutheria.
Fosil Juramaia sinensis ungkap nenek-moyang makhluk eutheri (physorg.com)

Para ilmuwan di Cina menemukan fosil hewan sejenis tikus, yang dianggap bakal mengungkap sejarah evolusi mamalia, temasuk manusia. Fosil itu berasal dari makhluk yang diyakini hidup sekitar 160 juta tahun yang lalu.
Ini merupakan fosil tertua yang pernah ditemukan dari kelompok hewan yang disebut eutheria.
Fosil Juramaia sinensis ungkap nenek-moyang makhluk eutheri (physorg.com)

Para ilmuwan di Cina menemukan fosil hewan sejenis tikus, yang dianggap bakal mengungkap sejarah evolusi mamalia, temasuk manusia. Fosil itu berasal dari makhluk yang diyakini hidup sekitar 160 juta tahun yang lalu.
 
2012 Lizz Shop | Blogger Templates for HostGator Coupon Code Sponsors: WooThemes Coupon Code, Rockable Press Discount Code